Jumat, 28 Juni 2019

Sejarah Kerajaan Bolaang Mongondow

Article by Chicin Kolintama
Pukul 23:58


1. Sejarah kerajaan Bolaang Mongondow

Bolaang Mongondow adalah wilayah Suku Mongondow. Bahasa ibu penduduk asli di daerah ini adalah Bahasa Mongondow. Asal mula Suku Mongondow berasal dari keturunan Gumalangit dan Tendeduata serta Tumotoibokol dan Tumotoibokat. Berikut daftar Raja-Raja Kerajaan Bolaang Mongodow:
1) 1400 – 1460: Punu` Mokodoludut
2) 1460 – 1480: Punu` YayuBangkai
3) 1480 – 1510: Punu` Damopolii
4) 1510 – 1540: Punu` Busisi
5) 1560 – 1600: Punu` Mokodompit
6) 1600 – 1650: Punu` Tadohe
7) 1653 – 1694: Raja Loloda Mokoagow atau Datu Binangkang
8) 1694 – 1695: Raja Yakobus Manoppo
9) 1695 – 1731: Raja Fransiscus Manoppo
10) 1735 – 1748 dan 1756 – 1764: Raja Salomon Manoppo
11) 1764 – 1767: Raja Eugenius Manoppo
12) 1767 – 1770: Raja Christofeel Manoppo
13) 1770 – 1773: Raja Markus Manoppo
14) 1773 – 1779: Raja Manuel Manoppo
15) 1825 – 1829: Raja Cornelius Manoppo
16) 1829 – 1833: Raja Ismail Cornelis Manoppo
17) 1833 – 1858: Raja Yakobus Manuel Manoppo
18) 1858 – 1862: Raja Adreanus Cornelis Manoppo
19) 1862: Raja Yohanes Manuel Manoppo
20) 1886 – 1893: Raja Abraham Sugeha atau Datu Pinonigad
21) 1893 – 1901: Raja Riedl Manuel Manoppo
22) 1901 – 1928: Raja Datu Cornelius Manoppo
23) 1928 – 1938: Raja Laurens Cornelius Manoppo
24) 1947 – 1950: Raja Henny Yusuf Cornellius Manoppo

2. Sejarah Kerajaan Bolaang Mongondow 1670-1950

Desa Bolaang terletak di tepi pantai utara yang pada abad 17 sampai akhir abad 19 menjadi tempat kedudukan istana raja, sedangkan desa Mongondow terletak sekitar 2 km selatan Kotamobagu.
Daerah pedalaman sering disebut dengan ‘rata Mongondow’. Dengan bersatunya seluruh kelompok masyarakat yang tersebar, baik yang yang berdiam di pesisir pantai maupun yang berada di pedalaman Mongondow di bawah pemerintahan Raja Tadohe, maka daerah ini dinamakan Bolaang Mongondow.

Setiap kelompok keluarga dari satu keturunan dipimpin oleh seorang Bogani (laki-laki atau perempuan) yang dipilih dari anggota kelompok dengan persyaratan : memiliki kemampuan fisik (kuat), berani, bijaksana, cerdas, serta mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan kelompok dan keselamatan dari gangguan musuh.

Mokodoludut adalah punu’ Molantud yang diangkat berdasarkan kesepakatan seluruh bogani. Mokodoludut tercatat sebagai raja (datu yang pertama). Sejak Tompunu’on pertama sampai ketujuh, keadaan masyarakat semakin maju dengan adanya pengaruh luar (bangsa asing). Perubahan total mulai terlihat sejak Tadohe menjadi Tompunu’on, akibat pengaruh pedagang Belanda dirubah istilah Tompunu’on menjadi Datu (Raja).

Pada zaman pemerintahan raja Corenelius Manoppo, raja ke-16 (1832), agama Islam masuk daerah Bolaang Mongondow melalui Gorontalo yang dibawa oleh Syarif Aloewi yang kawin dengan putri raja tahun 1866. Karena keluarga raja memeluk agama Islam, maka agama itu dianggap sebagai agama raja, sehingga sebagian besar penduduk memeluk agama Islam dan turut mempengaruhi perkembangan kebudayaan dalam beberapa segi kehidupan masyarakat. Sekitar tahun 1867 seluruh penduduk Bolaang Mongondow sudah menjadi satu dalam bahasa, adat dan kebiasaan yang sama (menurut N.P Wilken dan J.A.Schwarz).

Pada tanggal 1 Januari 1901, Belanda dibawa pimpinan Controleur Anton Cornelius Veenhuizen bersama pasukannya secara paksa bahkan kekerasan berusaha masuk Bolaang Mongondow melalui Minahasa, setelah usaha mereka melalui laut tidak berhasil dan ini terjadi pada masa pemerintahan Raja Riedel Manuel Manoppo dengan kedudukan istana raja di desa Bolaang. Raja Riedel Manuel Manoppo tidak mau menerima campur tangan pemerintahan oleh Belanda, maka Belanda melantik Datu Cornelis Manoppo menjadi raja dan mendirikan komalig (istana raja) di Kotobangon pada tahun 1901. Pada tahun 1904, dilakukan perhitungan penduduk Bolaang Mongondow dan berjumlah 41.417 jiwa.

3. Sejarah wilayah Bolaang Mongondow

Di kawasan yang bernama Bolaang-Mongondow sekarang, selain kerajaan Bolaang-Mongondow dan Bolaang-Itang, berada pula kerajaan Kaidipang, Bintauna dan Bolaang-Uki, persis di pantai utara Laut Sulawesi.

Secara historis, Bolaang Mongondow adalah sebuah daerah (landschap) yang berdiri sendiri dan memerintah sendiri dan masih merupakan daerah tertutup sapai dengan akhir abad 19. Hubungan dengan luar (asing) hanyalah hubungan dagang yang diadakan melalui kontrak dengan raja-raja yang memerintah pada saat itu. Dengan masuknya pengaruh pemerintahan bangsa asing (Belanda) pada sekitar tahun 1901, maka secara administrasi daerah ini termasuk Onderafdeling Bolaang Mongondow yang didalamnya termasuk landschap Bintauna, Bolaang Uki, Kaidipang besar dari Afdeling Manado.

Sejak abad ke 16, wilayah kabupaten Bolaang Mongondow telah berada dalam wilayah kekuasaan kerajaan. Beberapa kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah ini antara lain:
1) kerajaan Bolaang Mongondow yang berkedudukan di Bolaang, dan empat kerajaan lainnya di wilayah Pantai Utara Bolaang Mongondow, yakni:
2) Kerajaan Bolango, kemudian menjadi Kerajaan Bolaang Uki berkedudukan di Walugu,
3) Kerajaan Bintauna dengan beberapa kali berpindah ibu kota, antara lain : Panayo, Minanga, dan Pimpi,
4) Kerajaan Bolaang Itang yang berkedudukan di Bolaang Itang dan
5) Kerajaan Kaidipang dengan Ibu kotanya Buroko.

Dari lima kerajaan yang berkuasa di wilayah Bolaang Mongondow, sebagaimana yang disebutkan diatas, kerajaan Bolaang Mongondow adalah kerajaan yang memiliki letak geografis yang lebih besar.

Abad ke-19 di wilayah bekas kabupaten Bolaang Mongondow 5 kerajaan, yaitu:
1) Kerajaan Bolaang Mongondow, yang terbesar.
2) Kerajaan Bolaang Uki, di tahun 1850-an masih disebut Kerajaan Bolaang (Bangka). Berikutnya:
3) Kerajaan Bintauna (Binta Oena),
4) Kerajaan Bolaang Itam dan
5) Kerajaan Kaidipang. Pada tahun 1912 bergabunglah kerajaan Bolaang-Itang dengan kerajaan Kaidipang menjadi Kerajaan Kaidipang Besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sejarah Kerajaan Bolaang Mongondow

Article by Chicin Kolintama Pukul 23:58 1. Sejarah kerajaan Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow adalah wilayah Suku Mongondow. Bahas...