Article by Chicin Kolintama
Pukul 23:58
1. Sejarah kerajaan Bolaang Mongondow
Bolaang Mongondow adalah wilayah Suku Mongondow. Bahasa ibu penduduk asli di daerah ini adalah Bahasa Mongondow. Asal mula Suku Mongondow berasal dari keturunan Gumalangit dan Tendeduata serta Tumotoibokol dan Tumotoibokat. Berikut daftar Raja-Raja Kerajaan Bolaang Mongodow:
1) 1400 – 1460: Punu` Mokodoludut
2) 1460 – 1480: Punu` YayuBangkai
3) 1480 – 1510: Punu` Damopolii
4) 1510 – 1540: Punu` Busisi
5) 1560 – 1600: Punu` Mokodompit
6) 1600 – 1650: Punu` Tadohe
7) 1653 – 1694: Raja Loloda Mokoagow atau Datu Binangkang
8) 1694 – 1695: Raja Yakobus Manoppo
9) 1695 – 1731: Raja Fransiscus Manoppo
10) 1735 – 1748 dan 1756 – 1764: Raja Salomon Manoppo
11) 1764 – 1767: Raja Eugenius Manoppo
12) 1767 – 1770: Raja Christofeel Manoppo
13) 1770 – 1773: Raja Markus Manoppo
14) 1773 – 1779: Raja Manuel Manoppo
15) 1825 – 1829: Raja Cornelius Manoppo
16) 1829 – 1833: Raja Ismail Cornelis Manoppo
17) 1833 – 1858: Raja Yakobus Manuel Manoppo
18) 1858 – 1862: Raja Adreanus Cornelis Manoppo
19) 1862: Raja Yohanes Manuel Manoppo
20) 1886 – 1893: Raja Abraham Sugeha atau Datu Pinonigad
21) 1893 – 1901: Raja Riedl Manuel Manoppo
22) 1901 – 1928: Raja Datu Cornelius Manoppo
23) 1928 – 1938: Raja Laurens Cornelius Manoppo
24) 1947 – 1950: Raja Henny Yusuf Cornellius Manoppo
2. Sejarah Kerajaan Bolaang Mongondow 1670-1950
Desa Bolaang terletak di tepi pantai utara yang pada abad 17 sampai akhir abad 19 menjadi tempat kedudukan istana raja, sedangkan desa Mongondow terletak sekitar 2 km selatan Kotamobagu.
Daerah pedalaman sering disebut dengan ‘rata Mongondow’. Dengan bersatunya seluruh kelompok masyarakat yang tersebar, baik yang yang berdiam di pesisir pantai maupun yang berada di pedalaman Mongondow di bawah pemerintahan Raja Tadohe, maka daerah ini dinamakan Bolaang Mongondow.
Setiap kelompok keluarga dari satu keturunan dipimpin oleh seorang Bogani (laki-laki atau perempuan) yang dipilih dari anggota kelompok dengan persyaratan : memiliki kemampuan fisik (kuat), berani, bijaksana, cerdas, serta mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan kelompok dan keselamatan dari gangguan musuh.
Mokodoludut adalah punu’ Molantud yang diangkat berdasarkan kesepakatan seluruh bogani. Mokodoludut tercatat sebagai raja (datu yang pertama). Sejak Tompunu’on pertama sampai ketujuh, keadaan masyarakat semakin maju dengan adanya pengaruh luar (bangsa asing). Perubahan total mulai terlihat sejak Tadohe menjadi Tompunu’on, akibat pengaruh pedagang Belanda dirubah istilah Tompunu’on menjadi Datu (Raja).
Pada zaman pemerintahan raja Corenelius Manoppo, raja ke-16 (1832), agama Islam masuk daerah Bolaang Mongondow melalui Gorontalo yang dibawa oleh Syarif Aloewi yang kawin dengan putri raja tahun 1866. Karena keluarga raja memeluk agama Islam, maka agama itu dianggap sebagai agama raja, sehingga sebagian besar penduduk memeluk agama Islam dan turut mempengaruhi perkembangan kebudayaan dalam beberapa segi kehidupan masyarakat. Sekitar tahun 1867 seluruh penduduk Bolaang Mongondow sudah menjadi satu dalam bahasa, adat dan kebiasaan yang sama (menurut N.P Wilken dan J.A.Schwarz).
Pada tanggal 1 Januari 1901, Belanda dibawa pimpinan Controleur Anton Cornelius Veenhuizen bersama pasukannya secara paksa bahkan kekerasan berusaha masuk Bolaang Mongondow melalui Minahasa, setelah usaha mereka melalui laut tidak berhasil dan ini terjadi pada masa pemerintahan Raja Riedel Manuel Manoppo dengan kedudukan istana raja di desa Bolaang. Raja Riedel Manuel Manoppo tidak mau menerima campur tangan pemerintahan oleh Belanda, maka Belanda melantik Datu Cornelis Manoppo menjadi raja dan mendirikan komalig (istana raja) di Kotobangon pada tahun 1901. Pada tahun 1904, dilakukan perhitungan penduduk Bolaang Mongondow dan berjumlah 41.417 jiwa.
3. Sejarah wilayah Bolaang Mongondow
Di kawasan yang bernama Bolaang-Mongondow sekarang, selain kerajaan Bolaang-Mongondow dan Bolaang-Itang, berada pula kerajaan Kaidipang, Bintauna dan Bolaang-Uki, persis di pantai utara Laut Sulawesi.
Secara historis, Bolaang Mongondow adalah sebuah daerah (landschap) yang berdiri sendiri dan memerintah sendiri dan masih merupakan daerah tertutup sapai dengan akhir abad 19. Hubungan dengan luar (asing) hanyalah hubungan dagang yang diadakan melalui kontrak dengan raja-raja yang memerintah pada saat itu. Dengan masuknya pengaruh pemerintahan bangsa asing (Belanda) pada sekitar tahun 1901, maka secara administrasi daerah ini termasuk Onderafdeling Bolaang Mongondow yang didalamnya termasuk landschap Bintauna, Bolaang Uki, Kaidipang besar dari Afdeling Manado.
Sejak abad ke 16, wilayah kabupaten Bolaang Mongondow telah berada dalam wilayah kekuasaan kerajaan. Beberapa kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah ini antara lain:
1) kerajaan Bolaang Mongondow yang berkedudukan di Bolaang, dan empat kerajaan lainnya di wilayah Pantai Utara Bolaang Mongondow, yakni:
2) Kerajaan Bolango, kemudian menjadi Kerajaan Bolaang Uki berkedudukan di Walugu,
3) Kerajaan Bintauna dengan beberapa kali berpindah ibu kota, antara lain : Panayo, Minanga, dan Pimpi,
4) Kerajaan Bolaang Itang yang berkedudukan di Bolaang Itang dan
5) Kerajaan Kaidipang dengan Ibu kotanya Buroko.
Dari lima kerajaan yang berkuasa di wilayah Bolaang Mongondow, sebagaimana yang disebutkan diatas, kerajaan Bolaang Mongondow adalah kerajaan yang memiliki letak geografis yang lebih besar.
Abad ke-19 di wilayah bekas kabupaten Bolaang Mongondow 5 kerajaan, yaitu:
1) Kerajaan Bolaang Mongondow, yang terbesar.
2) Kerajaan Bolaang Uki, di tahun 1850-an masih disebut Kerajaan Bolaang (Bangka). Berikutnya:
3) Kerajaan Bintauna (Binta Oena),
4) Kerajaan Bolaang Itam dan
5) Kerajaan Kaidipang. Pada tahun 1912 bergabunglah kerajaan Bolaang-Itang dengan kerajaan Kaidipang menjadi Kerajaan Kaidipang Besar.
Cerita Mongondow-Gorontalo
Konten ini berisi tentang sejarah, tradisi, tempat wisata, permainan, makanan khas 2 daerah yang ada di Sulawesi. Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan nama, tempat, dan mohon izin untuk gambar-gambar yang sudah terlampirkan disetiap konten ini, pun hanya untuk memenuhi salah satu mata kuliah.
Jumat, 28 Juni 2019
Sejarah Gorontalo
Article by Chicin Kolintama
Pukul 23:35
1. Sejarah
Menurut sejarah, jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Makassar, Pare-pare dan Manado. Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur, yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone. Seiring dengan penyebaran agama tersebut Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow (Sulut), Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara. Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan karena letaknya yang strategis menghadap Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).
Kedudukan Kota Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe kota Kerajaan ini dipindahkan dari Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B. Dengan letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada wilayah sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala dan Bolaang Mongondow.
Sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut hukum adat ketatanegaraan Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut "Pohala'a". Daerah Gorontalo ada lima pohala'a :
Pohala'a Gorontalo
Pohala'a Limboto
Pohala'a Suwawa
Pohala'a Boalemo
Pohala'a Atinggola
Dengan hukum adat itu, maka Gorontalo termasuk 19 wilayah adat di Indonesia. Antara agama dengan adat di Gorontalo menyatu dengan istilah "Adat bersendikan Syara' dan Syara' bersendikan Kitabullah". Pohala’a Gorontalo merupakan pohala’a yang paling menonjol diantara kelima pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal. Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai pendapat dan penjelasan antara lain :
Berasal dari "Hulontalangio", nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi hulontalo
Berasal dari "Hua Lolontalango" yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang.
Berasal dari "Hulontalangi" yang artinya lebih mulia.
Berasal dari "Hulua Lo Tola" yang artinya tempat berkembangnya ikan Gabus.
Berasal dari "Pongolatalo" atau "Puhulatalo" yang artinya tempat menunggu.
Berasal dari Gunung Telu yang artinya tiga buah gunung.
Berasal dari "Hunto" suatu tempat yang senantiasa digenangi air.
Jadi asal usul nama Gorontalo (arti katanya) tidak diketahui lagi, namun jelas kata "hulondalo" hingga sekarang masih hidup dalam ucapan orang Gorontalo dan orang Belanda karena kesulitan dalam mengucapkannya diucapkan dengan Horontalo dan bila ditulis menjadi Gorontalo.
Pada tahun 1824 daerah Limo Lo Pohala’a telah berada di bawah kekusaan seorang asisten Residen disamping pemerintahan tradisonal. Pada tahun 1889 sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah "Rechtatreeks Bestur". Pada tahun 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan Daerah Limo lo pohalaa dibagi atas tiga Onder Afdeling yaitu :
Onder Afdeling Kwandang
Onder Afdeling Boalemo
Onder Afdeling Gorontalo
Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi lima distrik yaitu :
Distrik Kwandang
Distrik Bone
Distrik Gorontalo
Distrik Boalemo
Pada tahun 1922 Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling yaitu :
Afdeling Gorontalo
Afdeling Boalemo
Afdeling Buol
Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, rakyat Gorontalo dipelopori oleh Bpk H. Nani Wartabone berjuang dan merdeka pada tanggal 23 Januari 1942. Selama kurang lebih dua tahun yaitu sampai tahun 1944 wilayah Gorontalo berdaulat dengan pemerintahan sendiri. Perjuangan patriotik ini menjadi tonggak kemerdekaan bangsa Indonesia dan memberi imbas dan inspirasi bagi wilayah sekitar bahkan secara nasional. Oleh karena itu Bpk H. Nani Wartabone dikukuhkan oleh Pemerintah RI sebagai pahlawan perintis kemerdekaan.
Pada dasarnya masyarakat Gorontalo mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi. Indikatornya dapat dibuktikan yaitu pada saat "Hari Kemerdekaan Gorontalo" yaitu 23 Januari 1942 dikibarkan bendera merah putih dan dinyanyikan lagu Indonesia Raya. Padahal saat itu Negara Indonesia sendiri masih merupakan mimpi kaum nasionalis tetapi rakyat Gorontalo telah menyatakan kemerdekaan dan menjadi bagian dari Indonesia.
Selain itu pada saat pergolakan PRRI Permesta di Sulawesi Utara masyarakat wilayah Gorontalo dan sekitarnya berjuang untuk tetap menyatu dengan Negara Republik Indonesia dengan semboyan "Sekali ke Djogdja tetap ke Djogdja" sebagaimana pernah didengungkan pertama kali oleh Ayuba Wartabone di Parlemen Indonesia Timur ketika Gorontalo menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur.
2. Sistem Pemerintahan
Pemerintahan di daerah Gorontalo pada masa perkembangan kerajaankerajaan adalah bersifat monarki konstitusional, yang pada awal mula pembentukan kerajaan-kerajaan tersebut berakar pada kekuasaan rakyat yang menjelmakan diri dalam kekuasaan Linula, yang sesungguhnya menurutkan azas demokrasi. Organisasi pemerintahan dalam kerajaan terbagi atas tiga bagian dalam suasana kerjasama yang disebut "Buatula Totolu", yaitu ;
3. Sejarah Terbentuknya Provinsi
Terinspirasi oleh semangat Hari Patriotik 23 Januari 1942, maka pada tanggal da bulan yang sama pada tahun 2000, rakyat Gorontalo yang diwakili oleh Dr. Ir. Nelson Pomalingo, MPd ditemani oleh Natsir Mooduto sebagai ketua Panitia Persiapan Pembentukan Provinsi Gorontalo Tomini Raya (P4GTR) serta sejumlah aktivis, atas nama seluruh rakyat Gorontalo mendeklarasikan berdirinya Provinsi Gorontalo yang terdiri dari Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo terlepas dari Sulawesi Utara.Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 10 tahun 1964 yang isinya adalah bahwa Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo merupakan wilayah administrasi dari Propinsi Sulawesi Utara. Setahun kemudian tepatnya tanggal 16 Februari 2001, Tursandi Alwi sebagai Penjabat Gubernur Gorontalo dilantik.
Pukul 23:35
1. Sejarah
Menurut sejarah, jazirah Gorontalo terbentuk kurang lebih 400 tahun lalu dan merupakan salah satu kota tua di Sulawesi selain Makassar, Pare-pare dan Manado. Gorontalo pada saat itu menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Indonesia Timur, yaitu dari Ternate, Gorontalo, Bone. Seiring dengan penyebaran agama tersebut Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan masyarakat di wilayah sekitar seperti Bolaang Mongondow (Sulut), Buol Toli-Toli, Luwuk Banggai, Donggala (Sulteng) bahkan sampai ke Sulawesi Tenggara. Gorontalo menjadi pusat pendidikan dan perdagangan karena letaknya yang strategis menghadap Teluk Tomini (bagian selatan) dan Laut Sulawesi (bagian utara).
Kedudukan Kota Kerajaan Gorontalo mulanya berada di Kelurahan Hulawa Kecamatan Telaga sekarang, tepatnya di pinggiran sungai Bolango. Menurut Penelitian, pada tahun 1024 H, kota Kerajaan ini dipindahkan dari Keluruhan Hulawa ke Dungingi Kelurahan Tuladenggi Kecamatan Kota Barat sekarang. Kemudian dimasa Pemerintahan Sultan Botutihe kota Kerajaan ini dipindahkan dari Dungingi di pinggiran sungai Bolango, ke satu lokasi yang terletak antara dua kelurahan yaitu Kelurahan Biawao dan Kelurahan Limba B. Dengan letaknya yang stategis yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan serta penyebaran agama islam maka pengaruh Gorontalo sangat besar pada wilayah sekitar, bahkan menjadi pusat pemerintahan yang disebut dengan Kepala Daerah Sulawesi Utara Afdeling Gorontalo yang meliputi Gorontalo dan wilayah sekitarnya seperti Buol ToliToli dan, Donggala dan Bolaang Mongondow.
Sebelum masa penjajahan keadaaan daerah Gorontalo berbentuk kerajaan-kerajaan yang diatur menurut hukum adat ketatanegaraan Gorontalo. Kerajaan-kerajaan itu tergabung dalam satu ikatan kekeluargaan yang disebut "Pohala'a". Daerah Gorontalo ada lima pohala'a :
Pohala'a Gorontalo
Pohala'a Limboto
Pohala'a Suwawa
Pohala'a Boalemo
Pohala'a Atinggola
Dengan hukum adat itu, maka Gorontalo termasuk 19 wilayah adat di Indonesia. Antara agama dengan adat di Gorontalo menyatu dengan istilah "Adat bersendikan Syara' dan Syara' bersendikan Kitabullah". Pohala’a Gorontalo merupakan pohala’a yang paling menonjol diantara kelima pohalaa tersebut. Itulah sebabnya Gorontalo lebih banyak dikenal. Asal usul nama Gorontalo terdapat berbagai pendapat dan penjelasan antara lain :
Berasal dari "Hulontalangio", nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi hulontalo
Berasal dari "Hua Lolontalango" yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang.
Berasal dari "Hulontalangi" yang artinya lebih mulia.
Berasal dari "Hulua Lo Tola" yang artinya tempat berkembangnya ikan Gabus.
Berasal dari "Pongolatalo" atau "Puhulatalo" yang artinya tempat menunggu.
Berasal dari Gunung Telu yang artinya tiga buah gunung.
Berasal dari "Hunto" suatu tempat yang senantiasa digenangi air.
Jadi asal usul nama Gorontalo (arti katanya) tidak diketahui lagi, namun jelas kata "hulondalo" hingga sekarang masih hidup dalam ucapan orang Gorontalo dan orang Belanda karena kesulitan dalam mengucapkannya diucapkan dengan Horontalo dan bila ditulis menjadi Gorontalo.
Pada tahun 1824 daerah Limo Lo Pohala’a telah berada di bawah kekusaan seorang asisten Residen disamping pemerintahan tradisonal. Pada tahun 1889 sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah "Rechtatreeks Bestur". Pada tahun 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan Daerah Limo lo pohalaa dibagi atas tiga Onder Afdeling yaitu :
Onder Afdeling Kwandang
Onder Afdeling Boalemo
Onder Afdeling Gorontalo
Selanjutnya pada tahun 1920 berubah lagi menjadi lima distrik yaitu :
Distrik Kwandang
Distrik Bone
Distrik Gorontalo
Distrik Boalemo
Pada tahun 1922 Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling yaitu :
Afdeling Gorontalo
Afdeling Boalemo
Afdeling Buol
Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, rakyat Gorontalo dipelopori oleh Bpk H. Nani Wartabone berjuang dan merdeka pada tanggal 23 Januari 1942. Selama kurang lebih dua tahun yaitu sampai tahun 1944 wilayah Gorontalo berdaulat dengan pemerintahan sendiri. Perjuangan patriotik ini menjadi tonggak kemerdekaan bangsa Indonesia dan memberi imbas dan inspirasi bagi wilayah sekitar bahkan secara nasional. Oleh karena itu Bpk H. Nani Wartabone dikukuhkan oleh Pemerintah RI sebagai pahlawan perintis kemerdekaan.
Pada dasarnya masyarakat Gorontalo mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi. Indikatornya dapat dibuktikan yaitu pada saat "Hari Kemerdekaan Gorontalo" yaitu 23 Januari 1942 dikibarkan bendera merah putih dan dinyanyikan lagu Indonesia Raya. Padahal saat itu Negara Indonesia sendiri masih merupakan mimpi kaum nasionalis tetapi rakyat Gorontalo telah menyatakan kemerdekaan dan menjadi bagian dari Indonesia.
Selain itu pada saat pergolakan PRRI Permesta di Sulawesi Utara masyarakat wilayah Gorontalo dan sekitarnya berjuang untuk tetap menyatu dengan Negara Republik Indonesia dengan semboyan "Sekali ke Djogdja tetap ke Djogdja" sebagaimana pernah didengungkan pertama kali oleh Ayuba Wartabone di Parlemen Indonesia Timur ketika Gorontalo menjadi bagian dari Negara Indonesia Timur.
2. Sistem Pemerintahan
Pemerintahan di daerah Gorontalo pada masa perkembangan kerajaankerajaan adalah bersifat monarki konstitusional, yang pada awal mula pembentukan kerajaan-kerajaan tersebut berakar pada kekuasaan rakyat yang menjelmakan diri dalam kekuasaan Linula, yang sesungguhnya menurutkan azas demokrasi. Organisasi pemerintahan dalam kerajaan terbagi atas tiga bagian dalam suasana kerjasama yang disebut "Buatula Totolu", yaitu ;
- Buatula Bantayo; dikepalai oleh Bate yang bertugas menciptakan peraturan-peraturan dan garis-garis besar tujuan kerajaan
- Buatula Bubato; dikepalai oleh Raja (Olongia) dan bertugas melaksanakan peraturan serta berusaha mensejahterakan masyarakat.
- Buatula Bala; yang pada mulanya dikepalai oleh Pulubala, bertugas dalam bidang pertahanan dan keamanan.
- Olongia Lo Lipu (Maha Raja Kerajaan) adalah kepala pemerintahan tertinggi dalam kerajaan tetapi tidak berkuasa mutlak. Ia dipilih oleh Bantayo Poboide dan dapat dipecat atau di mazulkan juga oleh Bantayo Poboide. Masa jabatannya tidak ditentukan, tergantung dari penilaian Bantayo Poboide. Hal ini membuktikan bahwa kekuasaan tertinggi dlm kerajaan berada dalam tangan Bantayo Poboide sebagai penjelmaan dari pd kekuasaan rakyat. Olongia sebagai penguasa tertinggi dalam kerajaan, terdapat pula jabatan tinggi lainnya yaitu "Patila" (Mangku Bumi) selanjutnya disebut Jogugu. Wulea Lo Lipu (Marsaoleh) setingkat dengan camat. Disamping Olongia dan pembantu-pembantunya sebagai pelaksana pemerintahan seharihari terdapat suatu Badan Musyawarah Rakyat (Bantayo Poboide) yang diketuai oleh seorang Bate. Setiap kerajaan mempunyai suatu Bantayo Poboide yang berarti bangsal tempat bermusyawarah. Di dalam bangsal inilah diolah dan dirumuskan hal-hal sebagai berikut: Menetapkan adat dan hukum adat; Mendampingi serta mengawasi pemerintah; Menggugat Raja; Memilih dan menobatkan Raja dan pembesar-pembesar lainnya.
3. Sejarah Terbentuknya Provinsi
Terinspirasi oleh semangat Hari Patriotik 23 Januari 1942, maka pada tanggal da bulan yang sama pada tahun 2000, rakyat Gorontalo yang diwakili oleh Dr. Ir. Nelson Pomalingo, MPd ditemani oleh Natsir Mooduto sebagai ketua Panitia Persiapan Pembentukan Provinsi Gorontalo Tomini Raya (P4GTR) serta sejumlah aktivis, atas nama seluruh rakyat Gorontalo mendeklarasikan berdirinya Provinsi Gorontalo yang terdiri dari Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo terlepas dari Sulawesi Utara.Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 10 tahun 1964 yang isinya adalah bahwa Kabupaten Gorontalo dan Kota Gorontalo merupakan wilayah administrasi dari Propinsi Sulawesi Utara. Setahun kemudian tepatnya tanggal 16 Februari 2001, Tursandi Alwi sebagai Penjabat Gubernur Gorontalo dilantik.
Yitohu Lo Hulondalo atau Permainan Gorontalo
Article by Chicin Kolintama
Pukul 22:24
Permainan rakyat tidak jatuh dari langit. Ia tumbuh dari Ini dia sepuluh jenis permainan rakyat versi Gorontalo yang statusnya nyaris punah. Dirangkum dari buku “Permainan Tradisional Anak Daerah Gorontalo” karya Farha Daulima (Semoga karya dan pengabdian almarhumah senantiasa menjadi amal ibadah sepanjang masa). Berikut 11 Yitohu Lo Hulondalo atau Permainan dari Gorontalo:
Pukul 22:24
Permainan rakyat tidak jatuh dari langit. Ia tumbuh dari Ini dia sepuluh jenis permainan rakyat versi Gorontalo yang statusnya nyaris punah. Dirangkum dari buku “Permainan Tradisional Anak Daerah Gorontalo” karya Farha Daulima (Semoga karya dan pengabdian almarhumah senantiasa menjadi amal ibadah sepanjang masa). Berikut 11 Yitohu Lo Hulondalo atau Permainan dari Gorontalo:
- AWUTA: Congklak versi Gorontalo. Pada zaman dulu hanya dimainkan pada suasana berkabung, ketika ada orang yang meninggal dunia. Awuta berasal dari kata Huta, yang berarti “tanah”, bermakna segala yang hidup akan kembali ke tanah. Awuta dimainkan dua hingga tiga orang anak, berusia 5 hingga 12 tahun. Permainan biasanya dilangsungkan di bawah rumah panggung, dengan menggali tanah menjadi 12 lubang lalu diisi bergantian oleh pemain dengan batu, jika batu terakhir terjatuh pada lubang yang kosong, pemain mengucapkan “Denggu!”, pertanda permainan tamat, lalu diulang lagi dari awal.
- BILU-BILULU: Permainan hadang versi gorontalo. Bilu-bilulu, adalah nama burung kecil yang gesit, konon berasal dari nama seorang anak laki-laki yang sedang memburu burung tersebut. Permainan ini digelar dimana saja dan kapan pun, pada saat terang bulan, di pantai juga di tumpukan jerami. Dimainkan oleh tiga anak berusia lima hingga 14 tahun. Dua orang berperan sebagai pemburu/penghadang, satu orang berperan sebagai burung, yang bertugas mengumpulkan sesuatu, tanpa harus tersentuh oleh si pemburu. Jika tersentuh, maka permainan terhenti, si pemburu yang menyentuh mengambil peran sebagai burung.
- TAPULA: Harafiahnya berarti “cari”, dimainkan anak lelaki maupun perempuan secara berkelompok pada waktu senggang, siang atau sore hari. Konon permainan ini mulai dikenal tahun 1927, pada zaman kolonial Belanda, dimainkan oleh anak pribumi yang tidak mampu mengecap bangku sekolah. Mereka berbagi peran, satu orang menjadi guru, sedang lainnya menjadi murid, tugasnya menebak batu yang disembunyikan secara acak dalam genggaman tangan. Murid yang benar tebakannya maka dinyatakan naik kelas, ditandai dengan maju pada kotak denah yang sudah disiapkan.
- TUMBAWA: Tidak terdapat arti harafiah kata ini. Istilah ini berarti mencocokkan benda-benda dengan penutupnya, misalnya panci atau mangkuk berpenutup. Semula permainan menggunakan kerang yang memiliki pasangan penutupnya dan dimainkan di daerah pesisir. Konon, permainan ini dibawa oleh pedagang dari Ternate yang sering berlabuh di Sumalata. Permainan ini menuntut ketelitian pemainnya untuk mencocokkan benda-benda serupa, sewarna namun berbeda motif. Peserta permainan (3-5 orang) memulai permainan dengan menumpuk benda-benda berpenutup tersebut dalam satu tempat yang berjarak tiga meter dari tempat mereka berdiri. Permainan berhenti setelah hitungan ke sepuluh. Peserta yang paling banyak memasangkan benda dengan benar, jadi pemenang.
- BATATA: Pengertian kata ini masih kabur, latarnya adalah pedagang yang kehilangan permata yang akan dia jajakan, sang pedagang harus berbagi syair sebagai kode dengan mata tertutup untuk dapat menemukan hartanya. Permainan ini menjadi seru dan kocak manakala sang pedagang menggapai-gapai mencari orang yang menjawab kode syairnya. Dimainkan oleh lelaki dan perempuan, biasanya pada malam hari, pada peringatan hari-hari besar.
- TULAWOTA: Artinya memilih, sekelompok anak mengumpulkan potongan anyaman tikar yang berwarna warni, atau potongan kain sisa jahitan. Perca atau potongan tikar aneka warna itu, kemudian dimasukkan dalam sebuah wadah, anak-anak kemudian berlomba untuk mencari padanan yang sama warnanya, pada zaman sekolah rakyat, ini biasanya digelar dalam kelas oleh guru dan menjadi permainan yang seru.
- MOMOTAHU: Membidik, dulu hampir di setiap rumah masyarakat Gorontalo , ditanami pohon kemiri, buahnya yang keras kemudian dijadikan mainan oleh anak-anak, diletakkan di atas botol, kemudian dibidik dengan menggunakan karet gelang pada jarak tertentu, permainan ini biasanya dimainkan pada waktu senggang, baik di rumah maupun di sekolah. Belakangan setelah ada kelereng, buah kemiri perlahan dilupakan.
- TI BAGOGO: Kata ini kerap membuat takut anak-anak, konotasinya adalah setan yang menyeramkan. Tapi jenis permainan ini justru jauh dari hal-hal menyeramkan. Seseorang, yang kalah undi ditunjuk sebagai Ti Bagogo, tugasnya menjangkau setiap orang yang berada dalam lingkaran. Siapa yang kena jangkau akan mengganti perannya, permainan ini jadi seru jika dalam satu lingkaran kecil, diisi oleh banyak orang.
- TUMBU-TUMBU BALANGA: Permainan menggunakan semacam syair/mantera, semula bertujuan untuk membujuk bayi yang menangis, dilakukan dengan menepuk-nepuk meja atau kursi dengan kepalan tangan, pukulan yang kian keras, terbukti mampu mencuri perhatian bayi yang menangis hingga terdiam. Permainan ini dimainkan berkelompok dengan saling menyusun tangan, saat mantera berakhir tangan paling bawah dibuka. “Tumbu-tumbu balanga, balanga li masoyi/ Soyi-soyi leke, leke kambu-kambu /Bu’ade tibawa/Tutuiyo Hulawa.
- CUR-PAL: Jika sejumlah anak sudah meneriakkan “cur-pal”, maka berkumpullah teman sejawat untuk bermain petak umpet. Permainan dimulai dengan menentukan penjaga benteng berupa tonggak atau pohon. Sesaat setelah si penjaga menutup matanya menghadap pohon, teman lainnya berpencar mencari persembunyian yang aman. Si penjaga bertugas memburu teman yang bersembunyi. Jika ketahuan, segeralah dia berlari ke benteng dan berteriak “Pal”. Kata itu pula yang menjadi penanda jika peserta lainnya lebih cepat mencapai benteng daripada si penjaga.
- MONONKALAR adalah permainan yang terdiri lebih dari tiga orang, masing-masing dari mereka menjaga ruang yang digaris berbentuk kotak di tanah sementara satu orang dari arah depan berusaha untuk berlari melewati ruang itu. bagi penjaga ruangan, mereka ditugaskan untuk menghadang orang yang melewati ruang itu.bila orang itu lolos melewati semua ruangan yang dihadang maka dialah pemenangnya.
Itog Mongondow atau Permainan Bolmong
Article by Chicin Kolintama
Pukul 22:04
Permainan rakyat tidak jatuh dari langit. Ia tumbuh dari mana bumi dipijak, ia sekaligus bisa menjelaskan kondisi lingkungan , sosial, ekonomi, pun politik pada zamannya. Ia diciptakan sebagai buah kearifan rakyat jelata. Permainan rakyat adalah ruang dan waktu tempat terjalinnya kehangatan dan keakraban antar manusia.
Berikut jenis-jenis permainan sebagaimana yang pernah di muat pada tulisan Bernard Ginupit, Kebudayan Daerah Bolaang Mongondow (1996). Namun dalam penjelasan tersebut, permainan rakyat ini terbagi dua dimana ada yang menggunakan alat dan adapula yang tidak. Berikut delapan permainan rakyat waktu dulu:
Jenis permainan yang tidak menggunakan alat, diantaranya :
Pukul 22:04
Berikut jenis-jenis permainan sebagaimana yang pernah di muat pada tulisan Bernard Ginupit, Kebudayan Daerah Bolaang Mongondow (1996). Namun dalam penjelasan tersebut, permainan rakyat ini terbagi dua dimana ada yang menggunakan alat dan adapula yang tidak. Berikut delapan permainan rakyat waktu dulu:
- Mominsikan yaitu menggunakan tempurung bentuk segi tiga dengan sebilah bambu ukuran sekitar 30 cm panjang, lebar 2,5 cm sampai 3 cm, dimainkan oleh 2 orang atau lebih, untuk menguji ketepatan menembak pisikan lawan dengan pinsikan sendiri dari jarak sekitar 50 m.
- Momaki’an atau main gasing, juga oleh 2 orang atau lebih untuk melihat gasing mana yang lebih lama berputar. Untuk meguji ketrampilan menembak gasing lawan yang sedang berputar.
- Molangkadan ini menggunakan dua bambu panjang sekitar 2 sampai 3 meter, memakai pedal bambu tempat menginjakkan kaki. Tinggi pedal 30 cm sampai 1 sampai 2 meter. Langkadan dipakai untuk berpacu atau untuk berjalan biasa dengan langkah panjang, bila pedalnya tinggi.
- Mokumbengan jenis permainan yang memainkan dua tongkat ukuran sekitar 30 cm panjang. Tongkat yang satu diletakkan di atas batu, tongkat dari tanah itu dipukul sampai beberapa kali, untuk menguji berapa lama tongkat itu melayang dan berapa kali dipukul.
Jenis permainan yang tidak menggunakan alat, diantaranya :
- Mogogadopan adalah main sembunyi-sembunyian. Satu orang ditutup matanya, yang lain bersembunyi untuk dicari.
- Mosimba’ungan atau mandi di sungai bermain bersembur-semburan air . sembarai bermain mosibunian yaitu menyembunyikan batu di dasar sungai agar dicari oleh teman. Bagi yang menemukan batu tersebut, maka dialah pemenangnya.
- Mobinsi’an umumnya dimainkan oleh pria, untuk menguji kekuatan menendang betis lawan.
- Mononkalar adalah permainan yang terdiri lebih dari tiga orang, masing-masing dari mereka menjaga ruang yang digaris berbentuk kotak di tanah sementara satu orang dari arah depan berusaha untuk berlari melewati ruang itu. bagi penjaga ruangan, mereka ditugaskan untuk menghadang orang yang melewati ruang itu.bila orang itu lolos melewati semua ruangan yang dihadang maka dialah pemenangnya.
Baiat Tradisi Gorontalo
Article by Chicin Kolintama
Pukul 21:36
Masyarakat Gorontalo lazim melakukan upacara adat baiat apabila anak perempuannya telah mengalami menstruasi pertamanya. Arti sesungguhnya pada upacara adat baiat ini sebenarnya sangat religius yaitu mengantarkan seorang gadis menjadi muslimah yang seutuhnya. Anak gadis yang telah menginjak akil baligh akan dituntun oleh seorang pemuka agama untuk mengucapkan syahadat, yakni kalimat ikrar peneguhan tauhid sebagai seorang muslimah. Setelah itu, sang gadis membacakan rukun iman, rukun Islam, dan rukun ihsan.
Adat budaya masyarakat Gorontalo merupakan peran orang tua untuk mengingatkan kepada sang anak akan datangnya tahap kehidupan yang sangat penting. Sayyidah Aisyah menyatakan:
"Jika anak gadis telah mencapai umur 9 tahun, maka ia termasuk perempuan (memasuki umur baligh)." (H.R. Tirmidzi).
Secara lebih luas, adat yang dinamakan baiat itu merupakan bagian tanggung jawab orangtua untuk menjaga keluarga dan anaknya dari api neraka, seperti perintah Alquran di atas.
Keunikan pada pelaksanaan upacara adat baiat yaitu bagi seorang gadis momentum mengucapkan ikrar janji kesetiaan pada dirinya untuk menjadi muslimah sepanjang hidupnya itu anggun dan tak akan terlupakan. Selanjutnya prosesi adat baiat dilaksanakan dengan seorang gadis yang mengalami akil baligh untuk menginjakkan kakinya dan berjalan di atas beberapa piring yang diisi oleh beras yang berwarna-warni. Seorang gadis itu pun berjalan berputar sebanyak 3 kali dan dipayungi oleh kedua orang tuanya sambil berjalan bagaikan permaisuri dari kahyangan.
Tak lupa diiringi lantunan doa oleh pemuka agama serta tausiah nasehat-nasehat agar menjalani hidup yang lebih baik di jalan yang benar. Setelah lantunan doa telah diucapkan, prosesi selanjutnya adalah prosesi siraman layaknya seorang pengantin yang akan menikah. Prosesi siraman pun dilakukan dengan menggunakan air yang dicampurkan oleh bermacam bunga dan dedaunan yang sangat wangi. Lantunan doa kembali dilakukan ketika kedua orang tua hendak menyiramkan air ke tubuh seorang gadis tersebut.
Setelah prosesi siraman usai, seorang gadis akan dirias bak seorang pengantin dengan menggunakan pakaian adat Gorontalo yang dihiasi oleh bili’u (hias kepala) yang cukup berat bila dikenakan terlalu lama. Inilah tahap akhir adat baiat yaitu menjadi pengantin baiat. Seorang gadis pun melantunkan doanya yang dituntun oleh pemuka agama.
Budaya Adat Baiat adalah satu dari banyaknya budaya yang berada di Indonesia. Satu adat yang memiliki banyak arti baik dari segi keagamaan maupun segi sosial yang terkandung agar mempererat tali persaudaraan. Adat baiat tak wajib dilaksanakan, namun banyak arti penting di setiap prosesinya yang akan lebih baiknya agar tetap dilaksanakan oleh masyarakat khususnya masyarakat Gorontalo. Saling mengingatkan sesama saudara setanah air akan lebih baik jika banyak masyarakat asli Gorontalo yang bermukim di luar provinsi Gorontalo agar tidak melupakan adat baiat yang menjadi ritual bagi seorang gadis remaja yang mulai dewasa.
Pukul 21:36
Masyarakat Gorontalo lazim melakukan upacara adat baiat apabila anak perempuannya telah mengalami menstruasi pertamanya. Arti sesungguhnya pada upacara adat baiat ini sebenarnya sangat religius yaitu mengantarkan seorang gadis menjadi muslimah yang seutuhnya. Anak gadis yang telah menginjak akil baligh akan dituntun oleh seorang pemuka agama untuk mengucapkan syahadat, yakni kalimat ikrar peneguhan tauhid sebagai seorang muslimah. Setelah itu, sang gadis membacakan rukun iman, rukun Islam, dan rukun ihsan.
Adat budaya masyarakat Gorontalo merupakan peran orang tua untuk mengingatkan kepada sang anak akan datangnya tahap kehidupan yang sangat penting. Sayyidah Aisyah menyatakan:
إِذَا بَلَغَتِ الْجَارِيَةُ تِسْعَ سِنِيْنَ فَهِيَ امْرَآَةٌ – رواه الترمذي
"Jika anak gadis telah mencapai umur 9 tahun, maka ia termasuk perempuan (memasuki umur baligh)." (H.R. Tirmidzi).
Secara lebih luas, adat yang dinamakan baiat itu merupakan bagian tanggung jawab orangtua untuk menjaga keluarga dan anaknya dari api neraka, seperti perintah Alquran di atas.
Keunikan pada pelaksanaan upacara adat baiat yaitu bagi seorang gadis momentum mengucapkan ikrar janji kesetiaan pada dirinya untuk menjadi muslimah sepanjang hidupnya itu anggun dan tak akan terlupakan. Selanjutnya prosesi adat baiat dilaksanakan dengan seorang gadis yang mengalami akil baligh untuk menginjakkan kakinya dan berjalan di atas beberapa piring yang diisi oleh beras yang berwarna-warni. Seorang gadis itu pun berjalan berputar sebanyak 3 kali dan dipayungi oleh kedua orang tuanya sambil berjalan bagaikan permaisuri dari kahyangan.
Tak lupa diiringi lantunan doa oleh pemuka agama serta tausiah nasehat-nasehat agar menjalani hidup yang lebih baik di jalan yang benar. Setelah lantunan doa telah diucapkan, prosesi selanjutnya adalah prosesi siraman layaknya seorang pengantin yang akan menikah. Prosesi siraman pun dilakukan dengan menggunakan air yang dicampurkan oleh bermacam bunga dan dedaunan yang sangat wangi. Lantunan doa kembali dilakukan ketika kedua orang tua hendak menyiramkan air ke tubuh seorang gadis tersebut.
Setelah prosesi siraman usai, seorang gadis akan dirias bak seorang pengantin dengan menggunakan pakaian adat Gorontalo yang dihiasi oleh bili’u (hias kepala) yang cukup berat bila dikenakan terlalu lama. Inilah tahap akhir adat baiat yaitu menjadi pengantin baiat. Seorang gadis pun melantunkan doanya yang dituntun oleh pemuka agama.
Budaya Adat Baiat adalah satu dari banyaknya budaya yang berada di Indonesia. Satu adat yang memiliki banyak arti baik dari segi keagamaan maupun segi sosial yang terkandung agar mempererat tali persaudaraan. Adat baiat tak wajib dilaksanakan, namun banyak arti penting di setiap prosesinya yang akan lebih baiknya agar tetap dilaksanakan oleh masyarakat khususnya masyarakat Gorontalo. Saling mengingatkan sesama saudara setanah air akan lebih baik jika banyak masyarakat asli Gorontalo yang bermukim di luar provinsi Gorontalo agar tidak melupakan adat baiat yang menjadi ritual bagi seorang gadis remaja yang mulai dewasa.
Alingkoge Khas Bolmong
Article by Chicin Kolintama
Pukul 21:13
Alingkoge merupakan makanan ringan terbuat dari Beras Ketan Putih dan Beras Ketan Hitam dicampur Gula Aren. Sering dijadikan sebagai makanan pelengkap hajatan di Bolaang Mongondow.
Alingkoge atau yang biasa disebut Wajik, biasanya dibungkus dengan Daun Jagung atau Daun Woka, Kudapan ini memiliki citarasa manis. Walaupun termasuk jajanan, namun pecinta kuliner juga bisa menyantap Alingkoge untuk mengganjal perut. Jika ingin mendapatkannya, datang saja ke Kelurahan Matali Kecamatan Kotamobagu Timur, tepatnya di kompleks gedung Manggala. Di daerah ini terdapat penjual-penjual kue dan salah satunya yang ditawarkan adalah Alingkoge.
Bagi para Travelers yang mau berkunjung atau yang akan keluar dari Bolmong atau ke Kotamobagu, jangan lupa membawa oleh-oleh khas dari Kota ini. Ada beberapa cemilan atau makanan ringan yang paling banyak dibeli oleh para wisatawan saat berkunjung ke Bolaang Mongondow Khususnya di Kotamobagu maupun warga lokal yang memberikan oleh-oleh untuk sanak saudara diluar daerah.
Pukul 21:13
Di masing-masing daerah di Sulut, mempunyai makanan khas masing-masing termasuk di Kota Kotamobagu/BolaangMongondow
Alingkoge atau yang biasa disebut Wajik, biasanya dibungkus dengan Daun Jagung atau Daun Woka, Kudapan ini memiliki citarasa manis. Walaupun termasuk jajanan, namun pecinta kuliner juga bisa menyantap Alingkoge untuk mengganjal perut. Jika ingin mendapatkannya, datang saja ke Kelurahan Matali Kecamatan Kotamobagu Timur, tepatnya di kompleks gedung Manggala. Di daerah ini terdapat penjual-penjual kue dan salah satunya yang ditawarkan adalah Alingkoge.
Bagi para Travelers yang mau berkunjung atau yang akan keluar dari Bolmong atau ke Kotamobagu, jangan lupa membawa oleh-oleh khas dari Kota ini. Ada beberapa cemilan atau makanan ringan yang paling banyak dibeli oleh para wisatawan saat berkunjung ke Bolaang Mongondow Khususnya di Kotamobagu maupun warga lokal yang memberikan oleh-oleh untuk sanak saudara diluar daerah.
Binte Biluhuta Khas Gorontalo
Article by Chicin Kolintama
Pukul 20:49
Binte biluhuta adalah salah satu makanan tradisional khas daerah Gorontalo yang cukup populer di kalangan wisatawan. Secara harfiah, binte berarti jagung dan biluhuta berarti disiram. Jika digabungkan, arti keduanya jagung disiram atau milu siram menurut istilah penduduk lokal. Milu adalah nama lain jagung bagi orang Gorontalo.
Makanan tradisional ini rasanya sangat enak dan khas yang diperoleh dari campuran bumbu pedas, asin, sekaligus manis. Cara pembuatan binte biluhuta ini terbilang mudah. Kalau belum berkesempatan ke sana, kita bisa mencoba membuatnya sendiri makanan khasnya ini.
1. Siapkan semua bahan-bahan untuk membuat binte biluhuta ala Gorontalo, Bahan-bahan yang diperlukan:
Pukul 20:49
Binte biluhuta adalah salah satu makanan tradisional khas daerah Gorontalo yang cukup populer di kalangan wisatawan. Secara harfiah, binte berarti jagung dan biluhuta berarti disiram. Jika digabungkan, arti keduanya jagung disiram atau milu siram menurut istilah penduduk lokal. Milu adalah nama lain jagung bagi orang Gorontalo.
Makanan tradisional ini rasanya sangat enak dan khas yang diperoleh dari campuran bumbu pedas, asin, sekaligus manis. Cara pembuatan binte biluhuta ini terbilang mudah. Kalau belum berkesempatan ke sana, kita bisa mencoba membuatnya sendiri makanan khasnya ini.
1. Siapkan semua bahan-bahan untuk membuat binte biluhuta ala Gorontalo, Bahan-bahan yang diperlukan:
- 4 buah jagung manis muda
- 1 buah kelapa parut
- Ikan tongkol
- Jeruk nipis secukupnya
- Irisan daun bawang secukupnya
- Daun kemangi secukupnya
- Bawang goreng secukupnya
- Penyedap rasa Royko atau Masako rasa ayam
- Garam secukupnya
- Kecap secukupnya
- 12 buah cabai rawit
- 2 siung bawang merah
2. Cara menghidangkan binte biluhuta:
- Siapkan sebuah mangkuk.
- Taruh ikan tongkol suwir, kelapa parut kukus, irisan daun bawang, dan daun kemangi secukupnya ke dalam mangkuk.
- Setelah itu, tuang jagung yang sudah masak tadi bersama dengan kuahnya.
- Terakhir, tambahkan bawang goreng, sambal, kecap, dan perasan jeruk nipis sesuai selera.
- Jika mau, kamu juga boleh menambahkan garam dan bumbu penyedap rasa hingga enak dan lezat.
- Siap disajikan!
Langganan:
Komentar (Atom)
Sejarah Kerajaan Bolaang Mongondow
Article by Chicin Kolintama Pukul 23:58 1. Sejarah kerajaan Bolaang Mongondow Bolaang Mongondow adalah wilayah Suku Mongondow. Bahas...
-
Article by Chicin Kolintama Pukul 22:04 Permainan rakyat tidak jatuh dari langit. Ia tumbuh dari mana bumi dipijak, ia sekaligus bisa me...
-
Article by Chicin Kolintama Pukul 00:21 Daerah Bolaang Mongondow yang dimaksudkan dalam pembahasan ini ialah suatu daerah (wilayah) ya...
-
Article by Chicin Kolintama Pukul 23:59 Gorontalo, salah satu wilayah yang terletak di Pulau Sulawesi ini ternyata punya serangkaian ...







