Pukul 04:25
Artikel ini bertujuan mengungkapkan pelaksanaan kegiatan dikili atau maulud Nabi menurut tradisi Gorontalo. Pengkajian dilakukan dengan pendekatan sosio-kultural melalui penelusuran literatur dan pengamatan empirik terhadap setiap peristiwa adat terkait dikili. Hasil kajian menunjukan bahwa berdasarkan kenyataan, sosial dan budaya masyarakat suku Gorontalo menempatkan dikili sebagai sesuatu yang penting dan mengandung nilai-nilai religius dalam mengatur perilaku hidup masyarakat. Norma-norma keindahan Islam merupakan penerjemahan secara simbolis terhadap kepercayaan dan pemahaman kepada Tuhan yang tercermin dalam formula zikir.
Ide dan gagasan manusia banyak yang hidup bersama dalam suatu masyarakat. Menurut Koentjaraningrat gagasan tersebut tidak lepas dari unsur lainnya yang saling berkaitan sebagai suatu sistem budaya (cultural system) yang dipertahankan secara berkelanjutan (Koentjaraningrat, 1980: 201). Termasuk ke dalam hal ini wujud gagasan yang terjelma dalam kebudayaan daerah. Wujud kebudayaan daerah menyangkut berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh daerah di Indonesia. Setiap daerah memiliki ciri khas kebudayaan yang berbeda, begitu pun halnya dengan daerah Gorontalo. Masyarakat Gorontalo sebagai salah satu etnis di Indonesia memiliki kebudayaan sebagai peninggalan nenek moyang terdahulu yang terpatri dalam tradisi yang berbentuk sastra atau lebih dikenal dengan nama sastra daerah. Ditinjau dari penggunaan bahasanya berdasarkan hasil penelitian Tuloli didapatkan klasifikasi sastra daerah Gorontalo menurut penggolongan:
1. Ragam sastra yang menggunakan bahasa Gorontalo lama atau bahasa adat
2. Ragam sastra yang menggunakan bahasa Gorontalo umum
3. Ragam sastra yang menggunakan campuran kata-kata Arab dan kalimat-kalimat al Quran dengan bahasa Gorontalo/Melayu.
4. Ragam sastra yang menggunakan campuran bahasa Gorontalo dengan bahasa Melayu.
Berdasarkan klasifikasi di atas modikili atau dikili yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan zikir termasuk klasifikasi yang ketiga yaitu ragam sastra yang menggunakan campuran kata-kata bahasa Gorontalo, bahasa Melayu dan Arab yang bersumber dari al Quran. Sastra zikir ini dalam tradisi Melayu merupakan salah satu di antara sekian banyak sastra pengaruh Islam. Nilai universal Islam adalah sifat moral yang ditandai dengan pembedaan yang baik dan yang buruk. Nilai yang mempertentangkan yang baik dan buruk ini umumnya muncul dalam tema-tema sastra. Berbudaya, berseni dan bersastra dengan asas Islam dapat diinterpretasikan sebagai suatu wujud beribadah kepada Allah. Dengan demikian nilai-nilai universal agama Islam itu menjadi patokan atau tema utama karya sastra pengaruh Islam itu. Sastra diciptakan karena Allah untuk kepentingan manusia yang terarah kepada kesejahteraan dan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat.
Ciri-ciri konsep sastra Islam itu yang menonjol adalah masalah akhlak, moral, etika dan hidup kemanusiaan.. Sastra pada umumnya mengandung aspek-aspek moral dan ahlak ini. Kemunculannya bisa dikaji dalam penokohannya, ide dan temanya, serta ungkapan-ungkapan yang bernilai ajaran Islam. Sebagai bagian dari “Puisi Melayu Tradisional” puisi berbentuk zikir (dikili), antara lain berisi puji-pujian kepada Allah, puji-pujian kepada Nabi, pantun berisi ajaran, dan mantra serta doa. Dari hasil penelitiannya di Afrika Finnegan memberikan beberapa ciri sastra yang berhubungan dengan agama, Ciri-ciri itu adalah: (1) isinya berkaitan dengan agama, yaitu Ketuhanan dan ajaran (syariat), (2) penceritanya ahli agama, (3) dilakukan dalam upacara agama.
Hal ini sama dengan pendapat Ben-Annos bahwa makna satra harus dilihat dari konteks budayanya. Maknanya bisa dirujuk pada tempat dan situasi pengucapannya.
Kata zikir berasal dari bahasa Arab dan dalam bahasa Gorontalo masyarakat lebih akrab dengan nama dikili, modikili (kegiatan) modua (berdoa) yang dilakukan pada saat peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Dikili diucapkan atau dilagukan oleh tukang dikili pada waktu memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap bulan Rabiul Awal, sehingga muncul arti zikir maulidan. Tradisi ini diucapkan secara berlagu yang berisi pujaan dan kisah tentang Nabi Muhammad, terdiri atas dua bentuk yaitu syair dan narasi (kisah). Dikili ditinjau dari segi isi merupakan pujaan kepada Nabi, berisi kisah Nabi Muhammad sejak dalam perut Siti Aminah sampai lahir, Nabi disusukan oleh Halimatus Sa’adiyah dan juga menceritakan sifat Nabi ketika masih kecil. Pengucapan atau pembacaan dikili secara khusus dilakukan oleh tukang dikili (ta modikilia). Tukang dikili ialah orang yang telah mengetahui dikili baik dalam menghapal isinya maupun sekaligus melagukannya.
Menurut Heijer dalam bahasa Melayu perkataan zikir lebih dominan digunakan disamping kata zikir, dike atau jike (Piah, 1989:3). Disebutkan pula bahwa zikir dalam tradisi Melayu digunakan sebagai: (1) puji-pujian kepada Allah diucapkan dengan atau tanpa lagu dengan intonasi yang berulang, (2) lagu atau nyanyian dengan pantun berarti suatu kegiatan pujian kepada Allah, diucapkan tanpa lagu, (3) doa atau pujian berlagu, biasanya disampaikan dalam perayaan maulid Nabi, (4) zikir juga dapat berarti gugusan kata-kata berupa doa yang diungkapkan. Adapun bentuk dikili yang mengandung ketentuan di atas diperlihatkan dalam contoh berikut:
Assalamun alaika
Zainal anbiya’i
Assalamun alaika
Atakal atukiya’i
Assalamun alaika
Assafal assufiya’i
Assalamun alaika
Azakal azukiya’i
Assalamun alaika
Minni rabbissama’i
Assalamun alaika
Daimbila inkida’i
Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa dikili (zikir) mengandung pengertian pujian kepada Allah yang diucapkan berulang, bentuknya berupa doa yang kadang diucapkan dengan berlagu dan ada juga yang tidak berlagu, dilakukan dengan suatu upacara terutama terlihat dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Perlakuan dikili (zikir) dianggap merupakan bagian dari amal ibadah kepada Tuhan untuk memuji kebesaran-Nya, mengagungkan kekuasaan-Nya, serta sebagai puji-pujian yang ditujukan kepada Nabi Muhammad selaku utusan-Nya untuk keselamatan bagi manusia di dunia dan akhirat. Dikili termasuk sastra Gorontalo pengaruh Islam yang bersamaan dengan sastra Islam lainnya seperti me’eraji, barjanji digunakan dalam kegiatan berbudaya di Gorontalo. Gorontalo merupakan salah satu daerah di Indonesia yang menempatkan budayanya identik dengan Islam. Hal inilah yang menyebabkan budaya di Gorontalo sarat dengan muatan-muatan ajaran Islam yang berlandaskan pada al Quran dan Hadits. Semua tata cara dalam upacara menurut budaya Gorontalo bernuansa Islami yang terpatri dalam pola syariat sebagai landasan adat Gorontalo. Pola syariat dimaksud dapat diklasifikasi atas 186 pola adat yang berdasarkan kedudukan dan rumpunnya dapat digolongkan menurut 7 rumpun adat, terdiri dari: (a) pola adat ketika sang ibu mengandung jabang bayi dan saat bayi dilahirkan disebut Awal pertumbuhan, (b) pola adat ketika sang anak menjelang akil baligh, (c) pola adat ketika dilangsung perkawinan menurut tradisi Gorontalo, (d) pola adat ketika seseorang menderita sakit sampai saat kematian menjelang, (e) pola adat penerimaan tamu, (f) pola adat menyelenggarakan atau membina kehidupan sosial kemasyarakatan dan agama, dan (g) pola adat membina silaturahim dalam pergaulan antara masyarakat (Baruadi, 2012:300).
Dari segi fungsi membuat klasifikasi zikir atas: (a) zikir maulid yang pelaksanaannya pada saat memperingati hari maulud, (b) zikir berarak, digunakan saat mengarak pengantin dan tamu penghormatan dan (c) zikir rebana yang dilaksanakan dengan menggunakan alat tabuh rebana saat berjalan menuju tempat upacara (Piah, 1989: 527). Selain itu ahli yang sama dari segi bentuk juga membuat klasifikasi zikir atas zikir laba, berjanji dan zikir Nabi Allah yang dijelaskan di bawah ini.
- Zikir Laba, adalah zikir yang bahasanya merupakan perpaduan atau campuran antara bahasa Arab dan bahasa Melayu. Terdapat pengutamaan unsur seni dalam zikir ini sehingga dikenal ada zikir yang sesuai ketentuan persyaratan zikir (zikir yang betul) dan bermakna serta ada juga zikir yang disusun secara bebas dan tidak bermakna.
- Zikir Barjanji, merupakan terjemahan dalam barjanji Arab Melayu sesuai terjemahan sewajarnya. Kata-katanya berbentuk puisi bebas, dari jenis qasidah (puisi Arab) yang menggunakan irama tunggal (monorhyme) tidak saja dalam satu untaian, bahkan dalam satu buku dari awal hingga akhir.
- Zikir Nabi Allah, bentuk ini lebih baik dan sempurna kata-katanya. Ungkapan-ungkapan yang digunakan tersusun dari baris-baris yang panjang dan mengandung empat hingga enam perkataan. Sama halnya dengan barjanji zikir Nabi Allah merupakan adaptasi langsung dari bahasa/sastra Arab. Perbedaannya adalah jika barjanji lebih dekat dengan qasidah sebagai salah satu puisi Arab sedangkan zikir Nabi Allah lebih puitis lebih indah dan lebih dekat dengan puisi Melayu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar